16 March 2017

Saat Dirawat di Rumah Sakit, Ada HOOQ yang Menemani

Pekan lalu, saya divonis terkena demam berdarah dengue (DBD) dan Tifus. Dua penyakit ini membuat kondisi fisik saya drop dan trombosit turun drastis. Selera makan saya berkurang, karena semua makanan rasanya pahit. Saya pun harus menjalani perawatan di rumah sakit. Selama 5 hari saya harus beristirahat di rumah sakit untuk mengembalikan kebugaran dan kondisi fisik yang melemah. Bagi yang sering menjalani perawatan di rumah, tentu tak perlu saya ceritakan lagi bagaimana suntuknya berada di rumah sakit, bukan?

tampilan hooq
Saya tak begitu senang dengan aroma obat dan suasana rumah sakit. Itu pula alasan saya malas untuk dirawat di rumah sakit. Tapi, terkena DBD dan Tifus tentu saja mengharuskan saya untuk dirawat. Suka atau tidak suka. Bayangkan, kita tidak bisa tidur nyenyak seperti di rumah. Selain ada tamu yang menjenguk, kondisi di rumah sakit tak serta merta membuat kita nyaman seperti di rumah sendiri. Pagi-pagi sudah ada perawat yang memasukkan jarum suntik ke tubuh kita, dan membuat kita lantas terbangun. Mereka sudah punya jadwal kapan kita harus disuntik, kapan ganti cairan impus, dan kapan kita harus minum obat. Kita tak bisa beristirahat seenaknya, seperti di rumah.

Pergerakan kita pun terbatas. Bolak-balik kamar mandi, melihat pemandangan dari jendela atau pura-pura berjalan di areal tempat tidur. Dunia seperti terbatas, dan kita jadi galau karenanya. Waktu lebih sering kita habiskan dengan rebahan di atas tempat tidur. Kita begitu bersyukur jika ada tamu yang menjenguk, karena pasti ada cerita yang bisa kita dengarkan. Selebihnya, kita berkutat di tempat tidur dan tidak tahu harus melakukan apa. Itulah salah satu alasan kenapa saya tidak begitu suka dirawat di rumah sakit.

Namun, bukan tak ada hal yang bisa disyukuri selama dirawat di rumah sakit. Tentu ada. Untuk menghilangkan suntuk, saya sering menghabiskan waktu dengan berselancar di internet melalui smartphone. Kebetulan, sebelum sakit saya sudah beli paket kuota internet yang cukup, bahkan ada bonus untuk menonton HOOQ hingga 5 GB. Ayo, nikmat manalagi yang harus kita dustakan dengan kuota sebesar itu? Meski sakit dan menjalani perawatan, dengan jumlah kuota internet yang cukup kita tidak akan galau.

HOOQ adalah sebuah aplikasi streaming movie untuk menonton film atau tv show besutan Telkomsel. Kita bisa berlangganan paket untuk perminggu, per bulan dan pertahun dengan harga yang relatif murah. Aplikasi ini bisa diinstall dengan mudah melalui Play Store untuk pengguna Android atau Apps Store untuk pengguna IOS. Caranya gampang, cari saja "hooq" di menu penginstalan aplikasi itu, dan langsung install. Tidak lama dan tak pake ribet.

Untuk membunuh suntuk, saya sering luangkan waktu menonton film atau TV Show di HOOQ. Jika biasanya saya menonton HOOQ ketika sedang menyeruput kopi di warkop, atau sedang bersantai di rumah, maka kini saya menontonnya di kala sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Itulah enaknya HOOQ, kita bisa menonton di mana saja, dan kapan saja. Persis seperti tagline HOOQ: HOOQ Time. Anytime. Kualitas gambarnya pun sangat bagus karena full-HD. Artinya, kita benar-benar dimanjakan dengan adanya aplikasi HOOQ. Pengalaman menonton film jadi berbeda sekali: langsung di genggaman. Navigasinya sangat sederhana, dan kita pun bisa mencari judul film di menu pencarian. Selain itu, kita bisa juga menonton film pilihan editor. Untuk setting bahasa kita bisa klik di icon gear dan memilih bahasa Indonesia.

Akhirnya, waktu perawatan lima hari menjadi tak begitu terasa. Karena saya menghabiskannya dengan menonton film. Kebetulan yang saya tonton adalah Supergirl yang berjumlah dua session itu. Saya suka serial ini karena ceritanya terkait dengan film Man of Steel. Selain itu, saya juga menonton lagi film Davinci Code. Padahal, film ini sudah saya tonton beberapa kali. Kemudian, film remaja: Ada Apa dengan Cinta. Hahaha.

Bagi saya kehadiran HOOQ itu sangat bagus, terutama bagi penikmat film di Aceh. Sebagai informasi, di Aceh tak ada bioskop (padahal dulunya ada). Kami harus selalu mengurut dada tiap ada rilis film terbaru. Bagi yang berkantong tebal, bisa menonton ke Medan atau Jakarta. Bagi yang kondisi keuangan pas-pasan, lebih memilih membaca sinopsis atau resensi film di media cetak atau online. Kami di Aceh selalu telat menikmati sebuah film baru karena ketiadaan bioskop. Bayangkan, betapa tidak enaknya hidup kami di Aceh. Untuk menonton film bagus, kadang kami melakukan cara instant: menonton film bajakan yang banyak tersedia di internet.

tampilan hooq
Tapi, bioskop bukan lagi satu-satunya sarana menonton dan menikmati film. Kehadiran HOOQ membuat kita bisa menonton film dengan kualitas gambar bagus. Ke depan, pihak HOOQ hendaknya menambah koleksi filmnya, jika perlu film yang baru dirilis. Ini akan menjadi nilai tambah, dan menarik minat penikmat film pada aplikasi HOOQ. Biaya berlangganan tak akan menjadi masalah, asal layanannya memuaskan.

Pada akhirnya, kehadiran HOOQ membuat pengalaman menonton film semudah membaca berita di dalam genggaman. Hebatnya, kita bisa lakukan di mana saja, dan kapan saja. Seperti saya, menonton HOOQ selagi dirawat di rumah sakit. []

25 February 2017

Ini Penghasilan Juan Mata dari Menulis Blog

Tak sengaja saya buka blog Juan Mata. Dan, saya pun tertarik untuk tahu penghasilan Juan Mata dari Menulis Blog. Betapa terkejut saya, penghasilannya tak jauh beda dari blog saya. Kok, bisa?

Juan Mata tak hanya pandai mengocek si kulit bundar atau menjebol gawang lawan. Punggawa Timnas Matador ini juga rutin menulis blog. Tak salah jika kita menyebut pemain berkaki kidal ini sebagai blogger dari lapangan hijau. Tapi, berapa kira-kira penghasilannya dari menulis blog?

Juan Mata
Pemain yang memiliki nama lengkap Juan Manuel Mata García termasuk rajin menulis di blog miliknya, juanmata8.com. Di situsnya itu, dia memasang tagline untuk kanal blognya, One Hour Behind, berlatar foto dirinya sedang menatap sesuatu, seperti layar moniter notebook. Di kanal blog ini, Gelandang serang yang juga piawai main di sektor sayap milik Manchester United ini rutin menulis pengalaman atau cerita sehari-hari, lebih banyak tentang pertandingan atau perasaannya setelah bermain bola. Pemain yang lahir di Burgos, Spanyol pada 28 April 1988 ini, minimal menulis satu posting seminggu sekali. Satu satu ciri khas dari tulisannya, dia memulai dengan menyapa semua orang, “Hi everyone”.

Diboyong dari Chelsea dengan harga 37,1 juta pounds, Juan Mata menjadi pemain penting MU sejak masih dilatih oleh Loius Van Gaal, dan kini di bawah asuhan Jose Mourinho. Sebagai pemain sepakbola profesional, Juan Mata tentu saja mendapatkan bayaran tinggi, sekitar Rp2,4 miliar per pekan. Belum lagi pendapatan dari menjadi model iklan atau penjualan jersey. Dengan pemasukan seperti itu, tentu saja Juan Mata tak perlu mencari duit tambahan dari, misalnya, menjadi penulis blog.

Pun begitu, menarik untuk diulas, berapa kira-kira pendapatan Juan Mata, jika blognya dipasang iklan pay per click dari mesin pencari nomor satu di dunia ya? Dari situs pemeringkat web, Alexa, blog juanmata8.com memiliki peringkat 550.280 di dunia. Tidak jelek-jelek aman, kan? Bagi para blogger, dengan peringkat blog demikian, sudah bisa mendapatkan pemasukan dari iklan dan blognya pasti dilirik pemilik merek untuk mempromosikan produk mereka.

Namun, betapa menyedihkan, blog milik Juan Mata cuma menghasilkan uang cukup untuk segelas kopi jika dipasang iklan. Estimasi yang dibuat situs Statshow, sebuah situs yang sering membuat perkiraan pemasukan dari sebuah blog, pemasukan dari iklan di blog Juan Mata cuma $2.38 per hari atau $71.40 per bulan. Artinya, pendapatan per tahun blog juanmata8.com sekitar $868.70. Yuk lihat, penghasilan Juan Mata dari Menulis Blog. Tidak jauh berbeda dengan blog kita, bukan?

Penghasilan Juan Mata dari Menulis Blog
screenshot dari statshow

Jumlah itu memang bukan hasil sebenarnya, hanya perkiraan saja. Biasanya memang tidak jauh berbeda, karena dihitung berdasarkan peringkat blog dan jumlah visitor. Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan tentang penghasilan Juan Mata dari Menulis Blog. []

Sudah tayang di UC News

20 February 2017

Cerita Ini Bikin Selera Makanmu Hilang, Percaya?

Pernah tidak gara-gara membaca sebuah cerita di buku atau media, tiba-tiba selera makan Anda langsung hilang? Atau selagi makan Anda mendengar sebuah cerita jorok, tiba-tiba Anda langsung berhenti makan dan ingin muntah segera. Pasti pernah, kan? Saya sendiri sering mengalaminya.

Nah, saya pernah membaca sebuah cerita tentang penemuan daging, dari buku Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern. Menurut si empunya penulis, cerita itu awalnya berasal dari Majalah TEMPO, tepatnya di rubrik Indonesiana. Saat pertama membaca, sebelum paragraf terakhir usai, perut saya mual dan langsung ingin muntah. Beberapa hari kemudian, tiap mau makan selalu teringat cerita itu, dan seketika selera makan saya langsung hilang.

Selera Makan
selera makan (internet)
Kenapa demikian? Menurut pakar bahasa itulah pengaruh imajinasi dari bahasa, yaitu
kemampuannya untuk merangsang manusia secara fisik. Bayangkan, tiap membaca sesuatu, pikiran kita ikut berimajinasi terhadap apa yang kita baca, dan kemudian mempengaruhi kita secara keseluruhan, terutama reaksi fisik. Kita jadi membayangkan apa yang kita baca dan secara tak sadar mempraktikkannya dengan fisik kita.

Penasaran dengan cerita yang membuat selera makan Anda hilang seketika? Berikut saya kutip ulang cerita itu, sekali pun tidak persis sesuai dengan aslinya.

Pada suatu malam, beberapa orang tukang becak menemukan bungkusan plastik berisi daging merah. Karena gembira mendapatkan ‘rezeki nomplok’, mereka bersama-sama menggoreng daging itu, tentunya setelah menaburkan garam dan sedikit bumbu. Goreng daging tercium gurih. Mungkin karena terlalu banyak lemak, goreng daging itu mengecil. Mereka heran melihat ada secuil kapas menempel. Tetapi setelah kapas itu dibuang, mereka bersama-sama menikmati daging itu. Dengan lahap.

Mereka tidur lelap di emperan warung, sampai pagi hari—ketika seorang tak dikenal membangunkan mereka. Ia bertanya apakah ada di antara abang-abang becak itu yang menemukan bungkusan plastik. “Semalam”, kata orang itu, “saya pulang dari rumah sakit. Saya singgah di warung ini sebentar. Saya membawa potongan daging. Sebetulnya bukan daging, tapi kepingan tumor daging tumbuh. Saudara saya baru dioperasi tadi malam.”

Abang-abang becak itu terpana, “Jadi, daging itu...” Daging yang menciut, kapas yang menempel, letupan-letupan gelembung yang keluar. “Jadi, daging itu...” Tiba rasa mual menekan dada mereka. Tidak tahan, mereka semua muntah.

Nah, bagaimana selera makan Anda setelah baca cerita itu? Pada ingin muntah, kan? []

05 February 2017

Akhir Cerita Surat Ayah Amel

Sejak beberapa hari lalu, mata saya sering-kali mendapati surat “Ayah Amel” yang diposting para netizen di facebook, twitter, path atau di instagram. Awalnya, saya abaikan saja dan sama sekali tidak membacanya. Namun, karena terlalu sering muncul di beranda saya (mungkin karena ada komentar baru terhadap postingan itu), mau tidak mau saya menyempatkan waktu membacanya, berikut komentar yang ada di status atau kicauan dari orang yang menanggapinya. Ah, rupanya memang lucu. Wajar jika orang ramai membicarakannya.

Surat Ayah Amel
Surat Ayah Amel
Saya tidak tahu pasti siapa yang pertama-kali menyebarkan surat ‘aneh’ yang sepertinya salah alamat itu. Saya coba searching di internet, hasilnya memang lumayan banyak, tapi justru membuat saya bingung. Umumnya informasi yang ada hanya mengulas soal surat tersebut dengan beragam cerita. Intinya, saya tidak memperoleh pencerahan tentang siapa yang pertama sekali mengunggah surat tersebut. Jangan-jangan surat itu sengaja ditulis oleh seseorang untuk mengalihkan perhatian orang dari politik yang akhir-akhirnya justru menggelikan. Sebab, soal beginian, orang Indonesia paling ahli. Hal remeh-temeh pun bisa dibikin jadi viral dan lalu orang-orang terhibur, seperti Cerita Mukidi atau Om Telolet Om.

Seperti dilansir Tribunnenws.com, foto surat Ayah Amel yang ditulis di kertas tulis ini diposting oleh akun oleh akun Facebook Dewi Purwaningsih (31/1/2017) dengan caption "Guru mana yang ga meleleh kalo dapet surat kaya gini". Tapi, apakah akun ini yang pertama-kali memposting foto surat Ayah Amel? Saya tak begitu yakin. Inilah bunyi surat Ayah Amel yang mengundang tawa se-Indonesia itu:

Kepada
Yth Ibu Gurunya Amel
di Kelas VI
"Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Alangkah indahnya pagi ini, matahari bersinar terang, burung-burungpun bernyanyi riang.
Bunga-bunga semerbak di taman mewangi dan bermekaran, tapi hanya satu yang terlihat paling indah dan menawan.
Tapi ibarat bunga, ada satu yang layu, yaitu Amel.
Hari ini, Kamis 26 Januari 2017 dia tidak masuk sekolah dikarenakan sakit.
Semoga ibu guru Amel tetap menjadi bunga yang paling indah menawan.
Amin...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hormat Saya
Ayah Amel"

Setelah membaca surat ini, kita tentu saja penasaran menunggu bagaimana kelanjutannya ‘berbalas surat’ tersebut. Dulunya, sebelum SMS mewabah atau sebelum chat di facebook atau WA jadi primadona, momen menanti surat balasan itu adalah saat-saat paling ditunggu, terutama oleh mereka yang sedang dimabuk cinta. Ada yang deg-degan, ada yang khawatir bahwa ada yang malu jika-jika surat itu tak berbalas. Jika pun dapat balasan, perasaan makin campur-aduk: apakah cintanya diterima atau ditolak.  Nah, karena Surat Ayah Amel ini seperti layaknya surat dua orang yang sedang kasmaran, kita pun jadi penasaran menanti balasannya akan seperti apa.

Surat Ibu Guru Amel
Rupanya, surat Ayah Amel berbalas, boo. Dari situs jejaring sosial, saya mendapati banyak netizen mengunggah surat balasan dari Ibu Gurunya Amel. Begini suratnya:

"Assalamualaikum wr. wbr..
Surat Bapak/Ibu sudah saya terima.
Alangkah kagetnya saya saat mengetahui Amel sakit.
Bagaikan petir di siang bolong, hatiku gundah gulana membaca surat Bapak/Ibu.
Tak terbayangkan perihnya hatiku.
Hatiku hancur berkeping-keping.
Semoga Amel cepat sembuh kelas sepi tanpa suara dan derai tawa Amel.

Wassalam.
Sekolah Amel, 01 Februari 2017.
(Ibu Gurunya Amel)

Coba baca, mereka berdua seperti orang sedang kasmaran, kan? Balasan dari Ibu Gurunya Amel tak kalah lebainya. Bisa jadi, dia mencoba nyambung dengan isi surat dari Ayah Amel. Kita tidak tahu, apakah yang menulis balasan ini benar-benar gurunya Amel atau bukan, kita tidak tahu. Di dunia yang lebih banyak orang iseng, siapa yang bisa menduga, bukan? Cuma, dari gaya tulisan, surat balasan itu jelas ditulis oleh orang yang berbeda. Tulisan sambungnya berbeda dari surat pertama.

Tapi, soal gaya tulisan itu tidak penting. Karena ini melibatkan orang dewasa, kita pasti menanti bagaimana kelanjutan surat-menyurat tersebut. Ada netizen yang menyebutkan kalau Ayah Amel seorang dua, sementara ibu gurunya Amel masih single. Ini jelas menarik. Seperti kita baca novel, jika ada konflik atau ketegangan, ceritanya menjadi semakin menarik. Nah, ini dua-duanya dalam status ‘jomblo’, pasti bakal ada kelanjutannya.

Namanya netizen, pasti banyak yang coba-coba iseng membuat surat balasan. Ada surat balasan lain yang seolah-olah ditulis oleh Ibunya Amel, dan ada pula dari orang yang merestui hubungan antara Ayah Amel dan Ibu Gurunya Amel, bahkan ada dari guru lain. Inilah surat-surat tersebut (lihat gambar):



22 January 2017

Apa Karya Melempar Kentang Panas

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Aceh (dan juga di beberapa daerah di Indonesia) tinggal menghitung hari. Hari pencoblosan sudah ditetapkan tanggal 15 Februari 2017. Ada enam pasangan yang bertarung memperebutkan kursi nomor satu untuk Aceh. Sesuai nomor urut, mereka adalah Tarmizi A Karim-Machsalmina Ali; Zakaria Saman-T Alaidinsyah; Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab; Zaini Abdullah-Nasaruddin; Muzakkir Manaf-TA Khalid; dan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah.
Dari semua kandidat calon Gubernur Aceh tersebut, Zakaria Saman atau akrab disapa Apa Karya-lah sosok yang paling menyita perhatian publik. Kehadirannya di panggung politik Aceh membuat kontestasi perebutan kursi Gubernur menjadi menggeliat, tidak tegang, dan kerap dibumbui humor politik. Uniknya pernyataan yang keluar dari mulut Apa Karya sama sekali tidak klise.
Apa Karya
Zakaria Saman dan T Alaidinsyah
Dalam debat publik perdana yang digelar Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dan disiarkan secara live di sebuah TV Nasional, Apa Karya langsung mencuri perhatian publik. Saat debat berlangsung, banyak netizen di Aceh membicarakan sosok yang dulu dikenal sebagai Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu. Pernyataannya yang muncul dalam debat segera menjadi viral: dikutip jadi status di Facebook, kicauan di Twitter, Instagram, dan dibuat jadi meme lucu, serta menyebar dari sejumlah aplikasi penyebaran pesan. Bahkan, beberapa penyedia usaha sablon langsung menjadikannya sebagai gambar di baju sablon.
Sebagai ‘pemenang’ debat perdana, Apa Karya kemudian menjadi sosok yang paling banyak disorot dalam debat kedua. Reputasinya sebagai calon gubernur yang jenaka, cerdas dan apa adanya, jelas akan menghadapi ujian berat. Bagaimana Apa Karya bertahan dari serangan dan asumsi-asumsi yang dapat menghancurkan apa yang sudah dibangunnya selama ini?
Kentang Panas
Pada debat kedua di Amel Convention Center, Banda Aceh, 11 Januari 2017 dan disiarkan live salah satu stasiun televisi dan radio, lagi-lagi Apa Karya menjadi bintang. Dia berbicara seperti orang yang sedikit pun tak punya beban, dan secara tajam menghantam kandidat lain. Ini berbeda dengan lima kandidat lain yang menampilkan citra diri paling siap memimpin Aceh, tapi celakanya justru menjadi bukan dirinya lagi: ada yang berlagak pintar, ada yang merasa paling menguasai masalah dan lalu merasa mampu memberi solusi tepat, ada yang mengungkit prestasi, ada pula yang mencoba lucu, dan hasilnya justru sama sekali tidak lucu.
Melihat gaya komunikasi Apa Karya serta bagaimana dia menyelesaikan masalah yang membelitnya persis seperti orang melempar kentang panas. Eits…tunggu dulu, Apa Karya tidak melempar kentang panas benaran dalam debat tempo hari itu. Istilah kentang panas atau hot potato ini hanya merujuk pada kondisi seseorang yang melempar kentang yang masih panas dalam suatu pesta barbecue (piknik dengan acara makan daging dan kentang panggang).
Istilah hot potato saya peroleh dari Roger Dawson. Dalam buku Secrets of Power Negotiating (Gramedia, 2002), Dawson menyebutkan hot potato adalah istilah dalam negosiasi yang dimaksudkan sebagai poin penekan lawan. Katanya, hot potato terjadi manakala seseorang ingin melempar masalah yang dihadapinya kepada Anda dan menjadikannya sebagai masalah Anda.
Menurut Dawson, jika kita menghadapi kondisi hot potato, yang harus dilakukan adalah menguji validitasnya. Ini penting dilakukan untuk mengetahui secara pasti apakah masalah itu berbahaya untuk reputasi kita atau tidak. Sebab, kadang-kala si pelempar hanya ingin mengetahui bagaimana respon kita. Dan, kita perlu merespon dengan cepat, karena jika tidak itu akan menjadi masalah kita, padahal sebenarnya itu masalah orang lain dan kita tidak harus terbebani karenanya, apalagi sampai merusak reputasi kita. Saya kira, Apa Karya sudah secara cerdas memperlihatkan kemampuannya menghadapi situasi rumit tersebut.
Apa dan Kentang Panas
Apa yang terjadi dalam debat kedua di Amel Convention Center tempo hari ini persis seperti orang melempar kentang panas (hot potato). Para kandidat mencoba menyerang kandidat lain dengan tujuan meruntuhkan reputasi dan memperlihatkan kepada publik untuk berhati-hati dalam menentukan pilihan. Apa Karya termasuk sosok yang paling banyak disorot dalam debat tersebut. Setidaknya, ada dua momen penting yang patut dicatat bagaimana Apa Karya keluar dari tekanan.
Pertama, soal janji 1 juta/KK. Calon gubernur nomor urut 6, Irwandi Yusuf menanyakan perihal janji 1 juta/KK yang pernah dijanjikan kandidat Gubernur Aceh dalam Pilkada 2012 silam. Menurut Irwandi, Apa Karya termasuk dalam tim kampanye calon Gubernur yang memenangkan Pilkada 2012, dan Apa Karya terikat dengan janji tersebut. “Apakah janji tersebut sudah ditunaikan? Karena menurut saya janji itu sama sekali belum direalisasikan. Atau Apa Karya akan melunasi janji tersebut jika terpilih jadi Gubernur?” begitu kira-kira pertanyaan Irwandi saat sesi tanya jawab antar kandidat.
Mendapat pertanyaan tersebut, jelas Apa Karya berada dalam tekanan dan dalam posisi terpojok. Tapi, bukan Apa Karya namanya jika tak mampu keluar dari tekanan. Menurut Apa Karya, dirinya memang termasuk salah satu petinggi dan penyokong kandidat Gubernur pada Pilkada 2012 silam yaitu Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (Keduanya maju lagi sebagai calon gubernur, dan tidak lagi berpasangan). Tapi, lanjutnya, yang menjadi gubernur bukan Dia, dan Dia sama sekali tidak merasa berhutang janji tersebut. “Kameng blang nyang pajoh jagong bek keunong gampong keunong geulawa,” jawab Apa Karya dengan perumpamaan dalam bahasa Aceh yang sangat kental. Kalau diterjemahkan secara kasar, pernyataan Apa Karya berarti “kambing sawah yang makan jagung jangan kambing kampung kena gebukan.”
Kedua, soal bantuan Rp600 miliar untuk kombatan GAM. Apa Karya menyadari dengan posisinya sebagai salah seorang anggota Tuha Puet (seperti dewan penasehat) partai, dirinya merasa perlu untuk menjernihkan persoalan. Dia tak mau dikaitkan sebagai pihak yang ikut menikmati uang bantuan tersebut. Karenanya, dia merasa perlu menanyakan langsung hal tersebut kepada kandidat gubernur Zaini Abdullah (incumbent) secara terbuka. “Soal bantuan 600 miliar untuk kombatan, apakah benar Doto memberikan bantuan senilai itu untuk kombatan GAM, siapa yang menerimanya. Berapa fee yang Doto terima dari bantuan tersebut?” begitu lebih kurang pertanyaan Apa Karya untuk Zaini Abdullah, calon gubernur nomor urut 4.
Saya tidak tahu, apakah Apa Karya pernah membaca buku Roger Dawson tersebut atau tidak. Tapi, apa yang ditunjukkan oleh Apa Karya menunjukkan bahwa dia tahu cara menghadapi kondisi ‘melempar kentang panas tersebut’. Dari contoh di atas terlihat jelas betapa lihainya Apa Karya keluar dari tekanan, serta bagaimana dia melempar masalah yang coba dijadikan sebagai masalahnya kepada orang lain. Dia seperti paham bahwa, jika Anda menangkap kentang panas, yang harus Anda lakukan adalah melemparkan kembali kentang panas itu ke orang lain. Jika tidak, anda harus siap-siap menahan panas. Dan itulah yang dilakukan Apa Karya ketika mendapat ‘kentang panas’ yang dilemparkan Irwandi Yusuf kepadanya, juga bagaimana Dia mengembalikan kentang panas kepada Zaini Abdullah. []
Note: Tulisan ini sudah tayang di UC News Browser

24 December 2016

Apa Karya dan Hikayat Boh Punyie

Di Pilkada Aceh 2017, Zakaria Saman adalah seorang rising star! Saya yakin semua orang sepakat dengan kesimpulan ini.
Apa Karya, begitu orang sering memanggilnya, hadir di panggung Pilkada bukan untuk membuat politik melulu urusan serius. Bagi mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini, politik adalah sebuah pesta kegembiraan. Setegas apapun perbedaan pilihan politik, kita tak boleh melupakan sifat alamiah manusia yang suka tersenyum, dan sesekali tertawa (bahkan terbahak-bahak). Dan Apa Karya tahu betul akan hal ini. Makanya, dia mengusung politik kegembiraan.
Apa Karya
Zakaria Saman
Saya tidak mengenal apalagi dekat dengan Apa Karya, begitu pun beliau. Saya tak yakin beliau mengenal saya, pun pernah mendengar tentang saya. Dunia kami begitu berjarak. Dia mewakili orang yang ‘han trok wa’ (HTW), sementara saya hanya anak ingusan yang mencoba menjadi ‘Aceh’ seperti dia. Dia berhasil, sementara saya gagal. Kenapa? Diakui atau tidak, Dia adalah figur penting di tubuh Gerakan Aceh Merdeka, yang sebelum MoU Helsinki disepakati, adalah sosok yang ikut menentukan Aceh mengarah ke mana: berdiri sendiri atau terus berkubang dalam darah.
Dia, bersama Hasan Tiro dan petinggi GAM lainnya, menginisiasi pelatihan militer bagi ratusan pemuda Aceh yang sudah bersedia “menggadaikan” nyawa mereka untuk mewujudkan cita-cita merdeka, sesuatu yang tidak pernah mampu saya lakukan (dan mereka pun kemudian juga gagal). Memang, saya sempat beberapa kali memberikan ceramah Aceh Merdeka di kala RI dan GAM menyetujui sebuah kesepakatan penghentian permusuhan atau Cessations of Hostilities Agreement (CoHA) pada 2002 silam. Tapi, itu pun saya lakukan di bawah pengamanan dan ketiak pasukan GAM, yang lagi-lagi secara hierarki, ada Apa Karya di atas mereka.
Meski tidak mengenal Apa Karya bukan berarti saya tidak pernah mendengar tentang Dia. Bagi orang yang akrab dengan dunia media, saya tentu saja sering membaca nama dia diulas, minimal dikutip oleh media, setiap kali media menulis tentang Gerakan Aceh Merdeka. Sebagai Menteri Pertahanan, peran Apa Karya tidaklah kecil. Dia disebut-sebut sebagai salah satu orang penting yang menyelundupkan senjata untuk gerilyawan GAM di lapangan, kala bermukim di Thailand. Itu memang menjadi tugas dia selaku Menhan.
Suatu hari di akhir tahun 2005, atau beberapa bulan setelah MoU Helsinki diteken, Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) menggelar Sidang Umum SIRA ke III di Dayah Ashabul Yamin, Grong-grong, Pidie. Pada hari pertama rapat, hadir dua orang penting Aceh Merdeka, Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe dan Zakaria Saman. Keduanya adalah orang kepercayaan Hasan Tiro di nanggroe. Saya tak ingat lagi warna baju mereka, namun keduanya kompak memakai kemeja. Saya tak yakin apakah saya sempat bersalaman dengan mereka atau tidak. Soalnya, urusan salaman dengan orang penting atau pejabat memang sangat jarang saya lakukan. Sudah bawaan sejak lahir.
Ketika itu, hubungan SIRA dan GAM masih cukup romantis, mantong meu-adoe A, meunan. Belum lahir lakab pengkhianat untuk SIRA. “SIRA nyan aneuk miet geutanyoe,” kata petinggi GAM kala itu. Dalam ingatan saya, lahirnya label ‘pengkhianat’ kepada SIRA dimulai saat proses Pilkada 2006 dan terus menguat di Pemilu 2009. Label pengkhianat kemudian terus mewarnai perjalanan politik di tanoh indatu, dan dilakabkan kepada siapa pun yang mencoba mengambil jalan berbeda dari jamaah. Hubungan yang memburuk itu memang menjadi sebuah keniscayaan ketika perjuangan politik berupa berebut kuasa menjadi panglima. Fenomena ini lazim terjadi di belahan dunia mana pun yang baru lepas dari konflik.
Kedua petinggi GAM ini kemudian diberi kesempatan untuk menyampaikan beberapa kata sebagai bahan pemanasan untuk anggota SIRA yang akan bersidang. Menteri Keuangan menyampaikan beberapa perkembangan politik dan apa yang harus dilakukan setelah damai diteken, serta peran apa yang bisa dimainkan oleh SIRA.
“Kamoe nyoe kalheuh berjuang, sampe lahe MoU Helsinki. Kamoe hana muphom politek, suai politek nyan urusan gata-gata nyang mantong muda dan na jak sikula,” begitu kira-kira kata Apa Karya, saat itu. Entah mengamini wejangan Apa Karya dan Tgk Muhammad Lampoh Awe atau memang sudah mulai muncul keinginan untuk mengambil peran politik, para aktifis SIRA kala itu kemudian mulai bercita-cita mendirikan partai politik. Seingat saya, ada dua debat penting kala itu: mendirikan partai sendiri atau bersama-sama dengan Gerakan Aceh Merdeka (atau yang kemudian bermetamarfosa menjadi Komite Peralihan Aceh). Tak ada kata sepakat kala itu.
MoU Helsinki yang diteken pada 15 Agustus 2005 menutup rapat peluang Aceh untuk merdeka atau menuntut referendum. Para pejuang GAM dan aktivis pro kemerdekaan tahu soal ini. Tapi, Apa Karya yang tahu kegelisahan orang Aceh, punya cara sendiri bagaimana menjelaskan hal itu. Di hadapan aktivis SIRA, Apa Karya mengeluarkan jurus mabuk, bagaimana mensiasati peluang Aceh merdeka yang sudah tertutup rapat dalam MoU Helsinki.
“MoU kalheuh ta teken, meumakna geutanyoe Aceh hanjuet le tuntut merdeka. Tapi, MoU nyan saban lagee punyie (penyu). Punyie memang hanjuet pajoh, tapi boh punyie juet pajoh (MoU sudah kita tandatangani, artinya kita orang Aceh tak boleh lagi tuntut merdeka. Tapi, MoU itu umpama penyu. Penyu tak boleh dimakan, tapi telur penyu boleh),” begitu katanya.
Saya tidak tahu, apakah Apa Karya masih ingat dengan hikayat boh punyie yang disampaikannya lebih 10 tahun silam itu. Yang pasti, kini mantan Menteri Pertahanan GAM itu mencoba peruntungannya dalam Pilkada 2017, berpasangan dengan T. Alaidinsyah. Tak ada yang tahu pasti bagaimana nasib orang Keumala, Pidie itu pada 15 Februari 2017 mendatang. Hanya saja, dalam sebuah debat kandidat, sosok yang dulu disapa Meuntroe Karim itu, meminta orang Aceh untuk tidak lagi memilih kuncing dalam karung. []

Sumber: ACEHKITA.COM

02 October 2016

Pungo dan Papa

Saya tidak ingat pasti kapan persisnya khutbah ini saya dengar. Satu hal yang pasti khutbah itu saya dengar pada satu jumatan ketika saya berada di kampung. Sudah lama sekali tapi belum lewat setahun. Saya lupa siapa nama khatibnya, tapi dia masih orang satu kecamatan dengan saya, cuma beda mukim saja.

Biasanya saya tak begitu ingat isi khutbah terutama yang dibacakan oleh khatib, tapi tidak begitu halnya dengan khatib satu ini. Dia tak seperti khatib di masjid di kota-kota besar yang hanya pintar membaca teks yang sudah disiapkan sebelumnya, dia tipikal khatib di masjid kemukiman. Khutbahnya berbasis pada persoalan masyarakat dan hal-hal yang dekat mereka.

Pungo dan Papa
Rancangan cover Aceh Pungo yang tak jadi dipakai
Umumnya khutbah yang berbasis pada teks, sangat monoton, tidak asik didengar dan membuat kantuk pendengarnya. Jarang orang mengingat isi khutbah dengan baik, karena sang penyampainya begitu berjarak dengan audiens. Khutbahnya tak mampu memberi pencerahan. Beda dengan khutbah di masjid kemukiman. Karena yang disampaikan adalah persoalan sehari-hari, khutbahnya melekat di kepala masyarakat.

Nah, isi khutbah di masjid kampung saya itu meski sudah berbilang bulan, masih terngiang di otak saya. Saya selalu gelisah jika tak menuliskannya, karena itu seperti ilham yang menghampiri saya dan tak mau terlepas dari saya sampai saya putuskan untuk menuliskannya. Saya jadi tenang, bahkan saat menuliskan judulnya saja.

"Kenapa orang banyak yang jadi gila dan miskin?" tanya khatib. Dia tentu saja tak membutuhkan jawaban. Sangat tidak lazim para jamaah berbicara di dalam masjid saat khatib memberi khutbah. Menjawab itu dia mengutip isi sebuah kitab, mungkin kitab yang tengah diajarkan untuk santri-santrinya. Sialnya, saya lupa pada judul dan pengarangnya.

Dia lalu menyitir kebiasaan masyarakat kita dalam hal makan. Menurutnya banyak orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan. Bahkan, ada yang setelah makan pun tak mencuci tangan, cukup membersihkan dengan tisu. Padahal, katanya dengan mengutip isi kitab, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan ada hubungannya dengan miskin dan gila.

"Orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan biasanya mudah menjadi miskin dan papa. Sementara orang yang tidak mencuci tangan sesudah makan sering terjangkiti penyakit saraf dan gila." Khatib itu mengulanginya sampai tiga kali. Sekali dalam bahasa kitab, yaitu bahasa Arab; sekali dalam bahasa Indonesia; dan sekali dalam bahasa Aceh. Saya yakin tak ada orang yang tidak memahaminya. 

Jadi, simpulnya, jika ada orang yang menjadi miskin dan gila, patut diduga ada kebiasaan hidupnya yang tidak sehat: jarang mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. 

Meski khutbah itu sederhana, ada satu sisi dalam hati saya yang mempercayai khutbah sang khatib yang sedikit Zuhud itu. Mudah-mudahan ke depan atau kapanpun semoga ada penelitian tentang korelasi antara mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dengan hidup miskin dan gila (pungo).

Note: posting perdana via Xiaomi

30 June 2016

Cerita dari Kampung Canggai Lango

Awal September 2015 lalu, saya dan beberapa teman menyambangi Kampung Canggai, Mukim Lango, Pante Ceureumen, Aceh Barat. Hujan deras baru saja mengguyur salah satu Kampung di Aceh Barat itu, dan seolah menyambut kami yang datang dari jauh.

Sekretaris Mukim Lango, M Idrus, sudah menunggu di sebuah kios di dekat jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Meurabo. Jembatan tersebut merupakan salah satu dari dua jalur akses ke Kampung Canggai. Satu jembatan lagi berada di Kampung Sikundo, desa terjauh yang ada di Mukim Lango, sebuah mukim tertua di Bumi Teuku Umar itu.

Cerita dari Kampung Canggai Lango
Karena hujan yang belum ada tanda-tanda berhenti, kami sepakat beristirahat sejenak di kios itu sambil mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa ke Kampung Canggai. Mobil yang membawa kami terpaksa diparkir di tanah kosong milik warga yang tak jauh dari jembatan. Barang bawaan yang tidak begitu penting kami tinggalkan di dalam mobil. Pasalnya, kami hanya menginap dua malam di rumah Sekretaris Mukim. Di Mukim Lango ini tak ada rumah penginapan. Para tamu yang datang ke sana sering menjadikan rumah warga sebagai tempat menginap.

Jembatan yang menghubungkan Mukim Manjeng dengan Mukim Lango itu panjangnya hampir 500 meter dengan lebar tak lebih 1,5 meter, dan hanya bisa dilewati dengan sepeda motor saja. Itu pun jika ada sepeda motor dari arah berlawanan, pengendara sepeda motor dari arah sebaliknya harus sabar menunggu di tepi ujung jembatan, begitu juga sebeliknya. Dengan lembar 1,5 meter, badan jembatan hanya muat dilalui satu sepeda motor.

Setelah hujan mulai reda, satu persatu kami diantar menggunakan sepeda motor ke Kampung Canggai. Karena hanya ada dua sepeda motor, kami yang berjumlah lima orang itu dijemput secara bergantian. Menuju Desa Canggai kami melewati beberapa jalan menanjak yang belum dilapisi aspal, hanya ditaburi kerikil dan sertu. Namun, begitu memasuki Kampung Lawet, jalan sudah mulai teraspal.

Di sepanjang jalan yang kami lalui, saya bisa melihat hamparan sawah yang cukup luas, lalu sebentar kemudian dihadapkan dengan kebun kelapa sawit yang mulai berbuah. Di sisi sungai Meurabo yang arusnya terkenal ganas itu, saya dapat melihat bekas longsor yang tergerus derasnya air sungai. “Sungai itu sering kali meluap jika hujan tak henti-henti, seperti sekarang ini,” kata M Idrus yang memboncengi saya.

M Idrus menuturkan, mata pencaharian masyarakat di Mukim Lango umumnya sebagai petani, peternak sapi dan kerbau. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka sering mencari udang dan ikan di sungai. Mereka menangkap ikan dengan cara menebar jala, ada yang menggunakan reuleu (serok) atau dengan cara memancing. Ikan yang paling diminati masyarakat di sini adalah limbek (seungko, bahasa Aceh), dan belut.

Pentingnya keberadaan ikan di sungai, dalam Qanun Mukim Lango Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penguasaan dan Pengelola Hutan Adat Mukim, diatur tentang larangan meracun ikan di sungai. Siapa pun yang kedapatan meracun ikan, peralatannya disita dan diharuskan membersihkan halaman masjid selama tiga kali Jumat. “Hukuman ini untuk membuat pelaku malu mengulangi perbuatannya, karena setiap hari Jumat masyarakat melihat mereka membersihkan halaman masjid,” kata seorang Petua Kampung di sana.

***
Sebelum jaringan listrik masuk ke Kampung Canggai, masyarakat memanfaatkan damar untuk keperluan penerangan dan kebutuhan memasak, selain kayu bakar tentu saja. Listrik baru masuk ke sana sekitar tahun 2007 atau dua tahun setelah tsunami. “Orang-orang di sini pergi ke rimba mencari getah dama (damar, red),” kata Hasbi bin Teungku Bilue Sop yang dipanggil Ayah oleh orang Kampung Canggai itu.
 
Hasbi sama sekali tidak ingat kapan tahun lahirnya. Yang Dia tahu, dirinya lahir saat Indonesia baru saja merdeka. Meski sudah berusia senja, penglihatannya masih cukup baik, hanya pendengaran saja yang sudah berkurang. Dia tak banyak bicara dan hanya menjawab saat ditanya saja.

Masyarakat, kata Hasbi, biasa mencari getah damar secara berkelompok, atau sendiri-sendiri. Umumnya, hanya kepala keluarga atau anak tertua yang berangkat ke hutan. Jumlah getah damar yang dibawa biasanya cukup untuk keperluan seminggu hingga dua minggu. Damar yang dibawa pulang dari hutan itu kemudian direbus agar mencair. Cairan itu lalu dimasukkan dalam sebuah wadah dan dicetak berbentuk batangan.

“Setelah jadi batangan, lalu dipotong sesuai kebutuhan. Satu potongan cukup untuk satu Jumat,” jelasnya. Satu jumat yang dimaksud itu sama dengan seminggu dalam hitungan kita sehari-hari.

Namun, selama dua hari di Canggai, saya tak bisa menemukan sisa-sisa penggunaan damar. Masyarakat mengaku selepas tsunami tak lagi menggunakan damar sebagai alat penerang atau keperluan dapur. Pasalnya, setelah tsunami, masyarakat di kawasan itu mendapatkan bantuan panel surya dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR). Masing-masing rumah tangga memperoleh satu panel surya.

Hasil perbincangan saya dengan beberapa anggota masyarakat menyebutkan listrik masuk ke Canggai berbarengan dengan pembangunan jalan. Tak ada yang ingat pasti, kapan persisnya jaringan listrik mulai dibangun di sana. “Yang jelas listrik dan jalan dibangun bersamaan. Kalau tidak salah sekitar tahun 2007, setelah tsunami,” kata beberapa warga di sana serempak.

Selama di Canggai, saya lihat ada delapan unit rumah yang bentuk dan catnya persis sama. Sekretaris Mukim Lango, M Idrus, menuturkan, rumah tersebut merupakan bantuan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA), sebuah lembaga yang dibentuk setelah perdamaian untuk membantu korban konflik. Anggaran per unitnya mencapai 40 juta rupiah. Pembangunan rumah tersebut tidak menggunakan batu-bata, melainkan dengan cor semen langsung.

“Tak ada akses jalan untuk mengangkut batu bata ke Canggei,” kata M Idrus. Masyarakat pun membangun rumah dengan memanfaatkan pasir yang melimpah dari sungai. Pun begitu, saya sempat hanya melihat satu-satunya rumah yang dibangun dengan menggunakan batu bata. Rumah itu baru dibangun dan belum selesai. Menurut beberapa warga, batu batu itu diangkut menggunakan rakit kayu.

Dua hari di Canggai, saya tak pernah melihat mobil berseliweran di jalan atau terparkir di rumah warga. Masyarakat di sana sering menggunakan sepeda motor atau sepeda dalam beraktivitas dan bepergian. “Hanya ada dua mobil di kampung ini,” kata Ibnu Umar, Imum Mukim Lango, ketika saya mewancarainya. “Satu jenis L300 dan satu lagi mobil pick-up.” Satu unit mobil sempat saya lihat sedang teronggok di tepi sawah. Beberapa orang terlihat sedang memperbaikinya. Mobil itu, kata Ibnu Umar, hanya bisa dikendarai di kawasan kampung itu saja, tak bisa dibawa keluar karena tidak ada akses untuk lalu lintas mobil. “Dulu ketika dibawa masuk ke sini menggunakan rakit saat air sungai sedang dangkal,” katanya.

***
Meski akses ke Mukim Lango, terutama ke Kampung Canggai sangat sulit, masyarakat di sana sangat peduli pada pengembangan ekonomis berbasis masyarakat gampong, seperti pengelolaan hutan adat. Salah satunya, terlihat dari pembentukan Qanun Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penguasaan dan Pengelolaan Hutan Adat Mukim. Qanun yang disahkan pada 13 November 2014 ini mengatur secara rinci tentang tata kelola dan pemanfaatan hutan adat. Tujuan Qanun itu untuk melindungi hutan sebagai kawasan tangkapan air dan kelestarian fungsi lingkungan; melindungi hak warga mukim terhadap kawasan hutan; memberikan kemanfaatan kepada masyarakat mukim setempat; serta memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

Keberadaan hutan adat sangat penting bagi masyarakat. Di dalam qanun diatur tentang kewajiban masyarakat untuk melindungi kawasan hutan adat yang berfungsi sebagai hutan lindung itu. Perlindungan hutan adat, misalnya, dengan cara larangan membuka lahan, berburu satwa langka dan satwa yang dilindungi, menebang pohon, usaha tambang, meracun ikan dan membakar hutan.

Masyarakat adat diperbolehkan memungut hasil hutan dalam kawasan fungsi lindung berupa hasil hutan non kayu (rotan, damar, madu, ikan, gaharu dan ramuan obat-obatan); memburu kijang, rusa dan kancil dengan alat tradisional pada waktu-waktu tertentu yang dibenarkan adat; meneliti keadaan hutan, satwa dan tumbuhan.

Dalam hal memotong rotan, yang diperbolehkan hanya yang jauh dari aliran sungai. Sementara rotan yang terdapat di dekat aliran sungai dilarang. “Di dalam qanun pemotongan rotan harus dilakukan dengan cara tidak memanjat, tidak boleh asal tebang,” kata Imum Mukim Lango, Ibnu Umar, sembari memperlihatkan aturan qanun. Rotan yang dibolehkan dipotong haruslah di atas ukuran sepuluh meter. “Di bawah sepuluh meter dilarang,” katanya.

Penebangan pohon di hutan produksi diatur secara ketat. Warga mukim yang ingin menebang kayu harus memperoleh persetujuan dari Pawang Uteun selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap hutan. Sebelum izin diberikan, Pawang Uteun akan memeriksa jenis kayu, diameter kayu dan letak tumbuhnya kayu tersebut.

“Kayu yang diboleh ditebang memiliki diameter minimal 50 centimeter, dengan jarak 50 meter dari bibir sungai,” kata Ibnu Umar. Penebangan pohon yang berada di dekat aliran sungai, lanjutnya, mutlak dilarang, karena akan menggangu sumber air.

Pada Rabu, 9 September 2015, saya dan teman-teman kami meninggalkan Kampung Canggai, Lango dengan berjalan kaki. M Idrus mengantar kami sampai di jembatan gantung. “Saat demam batu giok melanda Aceh, banyak mobil mewah dari luar Aceh Barat diparkir di ujung jembatan,” kata M. Idrus menunjuk ke arah kios tempat kami pernah berteduh. “Mereka memburu giok sampai ke kampung kami.”


Pemerintah perlu memikirkan program untuk membuka akses perekonomian ke Kampung Canggai dan kampung lain yang ada di Mukim Lango. Salah satunya dengan membangun jembatan rangka baja, yang sangat didambakan masyarakat di sana. Kampung yang sempat menggeliat saat demam giok, akan bergairah kembali. Kali ini bukan karena giok, tapi dari hasil hutan yang selama ini dijaga sangat baik oleh masyarakat di sana. []

15 June 2016

Mudahnya Gadai Emas di Pegadaian

AWALNYA, saya tak pernah berurusan dengan kantor Pegadaian. Tapi saya tahu banyak teman-teman saya sering berurusan dengan kantor yang memiliki motto “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah” itu tiap kali memiliki masalah dengan keuangan. Ada saja barang atau bahkan emas yang digadaikan.

Pun begitu, saya terbiasa melihat orang keluar-masuk kantor Pegadaian, setiap kali melewatinya jika hendak menyeruput segelas sanger di warung kopi. Kebetulan, kantor itu sejalur dengan warung kopi tempat saya sering menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Pegadaian Emas
Logo pegadaian
Banyak orang yang sedang kesulitan, terutama menjelang hari-hari besar, menjadikan kantor yang identik dengan warna hijau itu sebagai pilihan terakhir. Ada yang menggadaikan emas, sepeda motor, barang elektronik dan sebagainya. Menurut mereka, Pegadaian benar-benar bisa menyelesaikan masalah mereka. Proses transaksinya pun tidak berbelit-belit dan ngak pake ribet seperti, misalnya, di banyak kantor lainnya.

Saya ingat betul, suatu hari bersama istri dan anak, akhirnya memilih menyambangi kantor Pegadaian Syariah di dekat lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Kami datang menjelang siang, karena biasanya itu lagi tidak ramai: tak banyak nasabah, dan kita pun tak perlu antri lama. Kesulitan hidup seperti apa sampai kami memutuskan memilih Pegadaian sebagai solusi terakhir?

Ada kebutuhan mendesak yang memaksa kami ke kantor itu: anak sudah mulai masuk Taman Kanak-kanak (TK). Biaya pendaftaran dan biaya masuk TK si anak tentu saja di luar pengeluaran rutin kami selama ini. Sementara simpanan dalam bentuk uang di bank tidak mencukupi, dan perlu dana tambahan. Pasalnya, istri lebih senang membeli emas daripada simpan uang di bank. Saya pun menyarankan agar sang istri menjual saja emas untuk menutupi kekurangan biaya sekolah anak.

“Nanti kalau ada rezeki, kita bisa beli lagi,” kata saya. Ia keberatan. Emas berupa cincin itu selalu melingkar di jari manisnya. Di cincin itu pun sudah ada ukiran namanya.

“Sayang kalau harus dijual. Sudah capek-capek minta ukir nama, masak akhirnya harus dijual.” Dia tetap tidak rela kalau cincin itu dijual.

Kan tidak lama, begitu honor bulan ini cair kita beli lain. Soal ukiran gampang, nanti minta diukir lagi.” Saya meyakinkan dia dengan halus. Lagi pula hanya dua minggu berselang, honor akan cair, dan bisa beli lagi cincin emasnya. Dia bergeming, tetap tak setuju kalau cincin itu harus dijual.

“Harga emas lagi turun,” katanya. “Rugi kalau jual sekarang.” Dia tetap ngotot. Saya pun sebenarnya tidak ingin cincin itu dijual, tapi kebutuhan uang sekolah anak jauh lebih penting dari emas itu. Ini tahun pertama si anak masuk sekolah, dan biaya masuk di TK perkotaan tidaklah sedikit. Beda dengan biaya sekolah di kampung.

Tiba-tiba, muncul ide bagaimana kalau emas itu digadaikan saja. “Dua minggu lagi saat honor cair, cincin itu kita ambil kembali,” kata saya. Istri setuju, karena cincinnya tidak dijual, hanya disimpan sementara waktu. Akhirnya, kami pun sepakat menyambangi kantor Pegadaian. Kami memilih Pegadaian Syariah, soalnya dekat dari tempat tinggal. Karena baru pertama kali  berurusan dengan pegadaian, saya tidak membawa apa-apa, cuma cincin emas itu saja. Yang kami lakukan hanya Pegadaian Emas. Itu saja.

SAYA ingat, hari itu, setelah memarkir sepeda motor, saya masuk ke dalam kantor Pegadaian, yang pintunya dibuka seorang Satpam. Dia tanya dengan ramah keperluan saya. “Mau gadai emas,” jawab saya singkat. Dia lalu meminta saya menghampiri sebuah meja, di sana sudah ada dua petugas. Keduanya lebih muda dari saya. Saya duga mereka adalah mahasiswa yang sedang magang, itu terlihat dari baju seragam yang dipakainya, berbeda dengan pakaian pegawai Pegadaian.

“Ada yang bisa dibantu?” tanya salah seorang mahasiswa magang itu.
“Mau gadai emas,” jawab saya.
“Bawa foto copy KTP?” tanya dia lagi.
“Tidak bawa. Kalau KTP-nya ada.”
“Nanti kalau ke sini lagi bawa foto copy KTP ya. Kalau nggak tidak akan dilayani,” katanya sembari menunjuk ke papan pengumuman yang tak jauh dari tempat kami duduk. Di pengumuman itu jelas tertulis, untuk bertransaksi di Pegadaian harus membawa foto copy KTP.

Dia meminta KTP saya, lalu mengambil form dan mulai mengisi data sesuai dengan keterangan di KTP saya. Setelah selesai, dia mengambil nomor antrian berwarna biru, dan menyerahkan ke saya. “Silakan tunggu, nanti akan dipanggil,” katanya. Saya lihat ada dua warna kertas berisi nomor antrian: kuning dan biru. Kertas antrian berwarna kuning untuk nasabah yang mau menebus barang gadaian, sementara yang warna biru untuk orang yang mau gadai.

Tak lama, saya dipanggil ke loket pegadaian. Petugas cewek di loket meminta nomor antrian dan formulir yang sudah diisi oleh si mahasiswa magang tadi, serta KTP asli saya. Tak lupa, dia juga minta emas yang hendak saya gadaikan. Saya pun menyerahkan semua yang diminta. “Kami timbang dulu ya emasnya?” kata petugas cewek berjilbab hijau muda. Sejenak dia menghilang dari hadapan saya, tapi tidak lama kemudian, sudah muncul lagi.

“Emasnya kami taksir senilai Rp2.920.000,” katanya. “Berapa pinjaman yang mau diambil?” 

Emas yang saya gadai memang berjumlah dua mayam atau setara dengan 6,6 gram, dan harganya tak jauh dari nilai taksiran itu.
“Satu juta saja,” jawab saya.
Dia pun mengingatkan, bahwa saya bisa ambil uang sesuai dengan harga taksiran. Tapi, saya bilang cukup satu juta saja. Dia cuma tersenyum, dan menyiapkan transaksi untuk saya. Selanjutnya, saya dikasih secarik kertas hasil print-out dan menyodorkan ke saya. “Silakan tunggu, nanti dipanggil sama kasir,” katanya setelah saya menerima kertas itu darinya. Saya kembali ke tempat duduk dan menunggu antrian dipanggil menghadap kasir.

Karena saya datangnya jelang siang hari, tidak banyak nasabah jam segitu di Pegadaian, dan saya tak perlu menunggu lama. Saya melihat cuma satu orang yang sedang dilayani kasir, sedangkan di loket kasir sebelahnya, seorang nasabah sedang menghitung duit yang baru diserahkan kasir. Berarti tak lama lagi Dia akan berlalu dari loket itu. Benar saja, setelah merasa uang yang dipegangnya cukup seperti jumlah yang dipinjamnya, Dia pun berlalu dari situ. Sekarang giliran saya yang dipanggil. Saya lekas menghadap ke loket kasir. Si kasir meminta kertas bukti transaksi yang diserahkan petugas cewek tadi.

“Biaya administrasinya Rp15.000 ya, pak,” katanya sembari menanyakan apakah biaya itu sekalian dipotong dari uang yang saya pinjam. “Tidak usah.” Lalu saya menyodorkan uang senilai Rp15 ribu untuk biaya administrasi. Uang Rp15 ribu itu segera berpindah tangan. Si kasir selanjutnya meminta saya menandatangani surat perjanjian gadai. Seingat saya, ada empat tempat di surat itu yang harus saya tandatangani. Surat yang asli diserahkan ke saya, berikut jumlah uang yang saya pinjam. Saya tidak menghitung lagi uang itu, karena tadi sempat memperhatikan saat si kasir menghitungnya, dan ada sepuluh lembar uang seratus-ribuan. Sebelum berlalu, si kasir mengingatkan soal biaya penyimpanan per 10 hari, yang tertera di surat perjanjian.

Sesaat saya perhatikan surat perjanjian gadai itu, lalu melipatnya. Selanjutnya uang dan surat gadai emas saya masukkan ke dalam dompet, dan berlalu dari loket itu. Ketika hendak keluar, Satpam dengan senyum ramahnya membuka pintu. Di luar, istri saya dan anak menunggu di sepeda motor. Prosesnya benar-benar cepat dan tidak pake ribet. Tiga minggu kemudian saya menyambangi lagi kantor Pegadaian dan menebus emas yang saya gadaikan itu. Uang penyimpanannya dihitung per 10 hari sejumlah Rp19 ribu, dan saya membayarnya tidak lebih dari Rp60 ribu saja untuk tiga minggu. Tidak mahal, kan?

SEJAK itu, setiap kali perlu uang mendadak, saya memilih menggadaikan emas di Pegadaian daripada menjualnya.  Seingat saya, setelah kali pertama datang ke Pegadaian, saya sempat beberapa kali datang ke kantor “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah” itu. Sekali waktu, saya perlu uang mendadak karena lagi-lagi honor telat cair, dan kebetulan sama istri saya ada kalung emas sebanyak 10 mayam emas murni (atau setara dengan 33 gram). Emas itu pun saya gadaikan. Petugas loket Pegadaian sampai terkejut ketika saya bilang uang yang ingin saya ambil Rp1 juta. “Taksirannya Rp12 juta lebih, pak!” katanya. “Nggak. Saya ambil satu juta saja.” Dia senyum-senyum, seperti tahu kalau saya cuma ingin menitipkan emas itu di pegadaian sebentar saja. Benar saja, dua minggu kemudian saya kembali ke kantor itu lagi dan mengambil emas yang saya gadaikan.

Gadai Emas
Surat Gadai Emas
Di lain waktu, saya kembali menggadaikan salah satu cincin istri saya, tapi bukan yang ada ukiran namanya. Saya tidak ingat alasan kami menggadaikan cincin itu,  bisa jadi mau bayar sewa rumah atau hendak pulang ke kampung. Kali ini, uang yang saya ambil sejumlah Rp2.500.000. Namun, dua minggu kemudian, kami yang sedang butuh uang berencana menjual cincin itu. Masalahnya, cincin yang mau dijual itu sedang di pegadaian, bagaimana bisa dijual. Cincin itu harus ditebus dulu. Tapi, kami tidak punya uang untuk menebusnya. “Coba kita tukarkan saja dengan cincin ini,” kata istri saya merujuk pada cincin yang melingkar di jari manisnya. “Mana bisa ditukar, kan barangnya beda,” kata saya.

Mencoba tidak ada salahnya. Saya pun mendatangi kantor Pegadaian Syariah, dan seperti biasa mengikuti prosedur pelayanan di kantor itu. Kepada petugas pendataan administrasi, saya utarakan niat saya untuk menukar benda gadaian. Dia tidak bisa memberi jawaban, dan meminta saya bertanya langsung ke pegawai di loket penaksir. 

“Kalau tukar barang gadaian tidak bisa,” kata pegawai perempuan. “Kecuali, barang itu ditebus dulu.”
“Berat dan jumlah gramnya kan sama, tidak apa-apa ditukar.”
“Tetap tidak bisa, pak. Administrasinya sudah beda.” Dia menyarankan saya untuk menggadaikan cincin berukiran nama di bagian dalamnya, baru selanjutnya menebus cincin berpasir. “Jumlah ambilannya masih sama, kan?” tanya. “Ya,” saya jawab singkat. Dia kemudian menghitung berapa biaya simpanan (ujrah) yang totalnya tidak sampai Rp70 ribu. Mereka pun memproses administrasinya, dan saya diminta menunggu. Tidak berapa lama, prosesnya selesai. Proses penggantian barang gadaian dengan cara tebus pun beres. Kini, cincin berpasir yang mau dijual sudah saya kantongin, dan cincin satu lagi (yang berukiran nama) sudah diambil alih pihak Pegadaian.

Itulah, pengalaman saya berhubungan dengan Pegadaian, dengan cara gadai emas atau pegadaian emas. Saya pun merasakan manfaatnya berurusan dengan Pegadaian, seperti mottonya, “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah”.  Saya benar-benar mendapatkan solusi atas tiap masalah yang saya hadapi. Tapi, sebenarnya, banyak layanan yang bisa kita akses di Pegadaian. Cobalah, teman-teman menjadi sahabat pegadaian, dan mencoba Pegadaian Apps, di mana sahabat bisa mendapatkan poin hanya dengan mengajak teman-teman lain bergabung, dan poin itu bisa ditukar dengan merchandise menarik. Jika teman-teman ingin berinvestasi dalam bentuk pegadaian emas bisa mencoba Investasi Logam Mulia Pegadaian, atau bisa juga Tabungan Emas Pegadaian. Tidak mahal dan tidak ribet. Tak percaya, silakan cek di pegadaian.co.id.

Itu pengalamanku dengan pegadaian, mana cerita pengalamanmu?